Pesan Skripsi
Prinsip-prinsip Pengembangan Kurikulum PAI (Telaah tingkat SLTP)
| Selasa, 01 Juni 2010 14:56

Pada dasarnya pendidikan merupakan media pengembangan kreatifitas, nalar berfikir dan moralitas kehidupan manusia. Dengan demikian perlu mendapatkan perhatian yang lebih mendasar dalam rangka perbaikan kualitas sumber daya manusia. Baik pada sisi intelektual, kreativitas maupun moralitas. Memang pendidikan di Indonesia mendapat nominasi yang paling utama di urutan terakhir bila dibanding dengan pendidikan di negara-negara di Asia misalnya; Filipina, Jepang, Malaysia, dan lain sebagainya.

Seperti yang dipublikasikan oleh United Nations Development Program (UNDP) misalnya, Indonesia memiliki nilai rapor cukup memprihatinkan. Dalam laporan Human Development Indeks (HDI) tahun 2002, UNDP sebuah institusi dibawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)  menempatkan  Indonesia dirangking 110, satu level lebih rendah dari Vietnam yang berada diurutan 109. Publikasi UNDP tersebut didukung juga oleh Asosiasi Penilaian Pendidikan Internasional yang menempatkan anak Indonesia nomor empat dari terbawah dari 38 negara untuk kemampuan membaca.

Usaha pemerintah dan masyarakat dalam mengembangkan dan memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia kurang mengena. Kemudian yang menjadikan persoalan mendasar adalah hakekat pendidikan sebagaimana termuat dalam pembukaan Undang-undang Dasar 1945 yang berbunyi; “…untuk mencerdaskan kehidupan bangsa”. Tetapi hal tersebut hanya sekedar menjadi slogan saja meskipun usaha tersebut sudah berjalan.

Pada perkembangan selanjutnya, dapat kita lihat dalam rangka konvergensi, Departemen Agama menganjurkan supaya pesantren yang tradisional dikembangkan menjadi sebuah madrasah, disusun secara klasikal, dengan memakai kurikulum yang tetap dan memasukkan mata pelajaran umum di samping agama. Melalui peraturan Menteri Agama No. 3 tahun 1950, pemerintah melakukan pembaharuan pendidikan—khususnya  islam dengan menginstruksikan pemberian pelajaran umum di madrasah dan memberi pelajaran agama di sekolah umum negeri dan swasta.

Sebagai respon terhadap kebijakan pemerintah tersebut, berbagai inovasi telah dilakukan untuk pengembangan Madrasah  baik oleh masyarakat sendiri maupun pemerintah. Masuknya pengetahuan umum dan ketrampilan ke dalam Madrasah adalah sebagai upaya untuk memberikan bekal tambahan agar para peserta didik bila telah menyelesaikan pendidikannya dapat hidup layak dalam masyarakat. Masuknya sistem klasikal dengan menggunakan sarana dan peralatan pengajaran madrasah sebagaimana yang berlaku di sekolah-sekolah bukan barang baru lagi. Bahkan adanya pesantren modern lebih cenderung membina dan mengelola madrasah-madrasah atau sekolah umum, baik tingkat dasar, menengah maupun perguruan tinggi.

Memang dunia pendidikan tidak dapat terlepas dari aspek kehidupan manusia yang lain misalnya; politik, ekonomi, budaya, dan keamanan. Sehingga dunia pendidikan harus selalu mengkontekskan diri seiring dengan perlembangan zaman. Tetapi tidak lantas kemudian pendidikan kehilangan arah dan tujuan sejatinya. Setiap kali ada usaha untuk pengembangan terhadap mutu pendidikan adalah tidak terlepas dari kulikulum. Dan dewasa ini keberadaan kurikulum sebagai bagian dari elemen pendidikan selalu dikambinghitamkan oleh masyarakat dan pakar pendidikan. Mereka berpendapat bahwa kurikulum 1994 perlu dirombak total, dirampingkan, dan diperbaharui.

Bahwa sebenarnya untuk menilai suatu kurikulum  harus dilaksanakan secara utuh, tidak sepotong-potong dan harus obyektif. Kecaman beberapa pihak terhadap kegagalan kurikulum 1994 yang kemudian akan diganti dengan kurikulum baru seperti penawaran terhadap Kurikulum Berbasis Kompetensi(KBK), adalah disebabkan karena tidak adanya sinergitas antara beberapa komponen kurikulum itu sendiri. Ketidakharmonisan itu terwujud ketika segala sesuatu yang telah dirancang dalam kurikulum berbeda jauh dengan apa yang dilaksanakan di lapangan.
Keberhasilan kurikulum setidaknya ditentukan oleh beberapa faktor sebagai berikut; pertama, adalah guru. Untuk keberhasilan suatu kurikulum faktor pendidik sangat menentukan.

Guru yang berkualitas baik dapat melaksanakan tuntutan kurikulum  dengan maksimal, maupun mereka yang dapat mengembangkan dengan sendirinya. Kedua, dukungan sarana dan prasarana. Selain keduanya yang juga ikut menentukan misalnya gedung sekolah yang memadai serta perabotan sekolah yang memadai untuk guru dan siswa. Disamping itu buku-buku pelajaran dan buku petunjuk pelaksanaan pembelajaran bagi guru juga berpengaruh. Dari sini dapat dilihat pelaksanaan kurikulum akan berjalan dengan lancar sebab didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai.

Dan yang ketiga, adalah adanya dukungan masyarakat. Dalam perancanaan kurikulum sebelumnya tentunya sudah diadakan observasi berkaitan dengan relevansi pengembangan kurikulum terhadap masyarakat sehingga konsekuensi logisnya adalah masyarakat harus mendukung dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditentukan bersama.
Sebagaimana yang dimuat dalam harian Kompas, bahwa adanya perkelahian antar siswa di depan ITC Rozi Mas Jakarta Barat pada bulan september 2000 adalah salah satu contoh dan sekaligus pelajaran berharga dalam menelaah kurikulum pendidikan di Indonesia. Tuntutan untuk menciptakan kurikulum yang beragam adalah menjadi suatu keharusan dalam pengembangan kurikulum itu sendiri. Perkelahian dan sejenisnya terjadi karena tidak adanya pemahaman yang mendalam akan pluralitas masyarakat dan peserta didik.

Kautsar Ashari Noer berpandangan bahwa konflik yang berbau sentimen keagamaan seringkali disebabkan oleh sifat ekslusifisme dan pandangan keagamaan. Seorang yang eksklusif menginginkan orang-orang yang tidak seagama berubah menjadi seagama dengannya supaya memperoleh keselamatan. Konflik antar umat beragama sering ditimbulkan karena penyebaran agama, dan yang lebih potensial adalah penyebaran agama yang disertai dengan sikap militan.
Sikap eksklusifisme pemeluk agama seperti tersebut di atas kemudian akan menimbulkan ekstrimisme dalam beragama. Sikap ini ditengarai dapat juga menjadi penyebab konflik, karena berimplikasi pada sebuah pandangan tunggal tentang kebenaran (absolutisme) yang tidak mengakui kebenaran yang ada diluar agamanya.  Jika sikap ini di pegangi oleh pemeluk agama (peserta didik) maka disharmoni menuju konflik akan tersebar luas dimasyarakat.

Sikap eksklusifisme dikarenakan pendidikan agama (islam) yang diberikan pada peserta didik kurang menekankan pada nilai-nilai moral seperti; kasih sayang, pluralisme, toleransi, dan cinta. Pendidikan agama ( Fiqih) juga kurang memberikan apresiasi terhadap paham keagamaan lain sebagai bagian dari sikap pluralisme agama. Sehingga hal ini mengakibatkan peserta didik awan terhadap paham keagamaan lain, padahal kurangnya pemahaman ini yang kemudian dapat menimbulkan sikap eksklusifisme dan absolutisme tersebut.

Sedangkan pelajaran agama yang diajarkan di sekolah tidak sensitif dengan fenomena sosial yang terjadi, kurikulum pendidikan belum sepenuhnya mampu menjawab persoalan tersebut. Ini yang menyebabkan kefatalan dalam pelaksanaan kurikulum pada sekolah-sekolah. Hal yang mendasar dan perlu segera dilakukan adalah melaksanakan revitalisasi  dan sinergitas dalam pengembangan kurikulum dengan melihat pada komponen-komponen yang ada didalamnya.
Mengingat kurikulum merupakan salah satu unsur yang sangat penting dalam sistem pendidikan. Zakiah Daradjat salah seorang tokoh pendidikan menyatakan bahwa unsur-unsur pendidikan meliputi; 1) institusi, 2) kurikulum, 3) administrasi dan supervisi, 4) bimbingan dan penyuluhan dan 5) evaluasi.  Berdasar pada pembagian tersebut di atas, maka unsur-unsur pendidikan yang ada merupakan sebuah tatanan yang pada dasarnya satu sama lain saling berkaitan, yaitu : bertujuan, punya batas, terbuka, tersusun dari subsistem atau komponen, ada saling keterikatan dan tergantung, merupakan satu kebulatan yang utuh, melakukan kegiatan transformasi, ada mekanisme kontrol dan memiliki kemampuan mengatur dan menyesuaikan diri.

Oleh karena itu, kelima aspek yang tersebut di atas sesungguhnya akan menjadi suatu kesatuan yang tidak terpisahkan dan menjadi sebuah jalinan erat dalam kelangsungan pendidikan yang pada gilirannya meningkatkan keberhasilan dalam menempuh tujuan pendidikan.
Dengan demikian kontekstualisasi hal tersebut adalah pengembangan dan perubahan dalam kurikulum Pendidikan Agama Islam yang didalamnya mencakup kurikulum pelajaran  Fiqih. Perlu disadari bahwa Madrasah Tsanawiyah (MTs) merupakan sekolah lanjutan tingkat pertama yang berciri khas islam sehingga perlu menjadikannya sebagai media strategis dalam penanaman kesadaran dan kesalehan personal dan sosial pada peserta didik. Kurikulum  Fiqih sebagai bagian dari kurikulum Pendidikan Agama Islam pada Madrasah Tsanawiyah (MTs) mempunyai peranan yang cukup mendasar dalam mewujudkan cita-cita bersama. Pelajaran  Fiqih sebagai pelajaran yang tidak hanya bernuansa kognitif tetapi lebih pada afektif dan psikomotorik. Sehingga dengan ini  Fiqih menjadi pelajaran yang cukup penting sehingga benar-benar mengarah kepada tujuan yang hendak dicapai.

Adapun selama ini dalam upaya pengembangan kurikulum PAI yang termasuk kurikulum  Fiqih masih terkesan tidak adanya hubungan yang sinergis antara berbagai komponen pengembangan kurikulum. Meskipun landasan kenapa diadakannya pengembangan sudah jelas dan sesuai dengan prinsip-prinsip yang ada, tetapi hal tersebut tidak menggigit terhadap komponen yang akan dikembangkan dan bersinggungan langsung di lapangan. Komponen tersebut mencakup tujuan, isi (materi), metode, dan evaluasi.

Dengan latar belakang demikian, penulis perlu menganalisis lebih mendalam terhadap kurikulum  Fiqih pada tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTs), sebagai obyek kajian skripsi. Oleh karena itu, mengkaji landasan pengembangan kurikulum  Fiqih dan sekaligus mengkritisi komponennya menjadi suatu persoalan yang cukup mendasar dan subtansial.

Download: http://www.mediafire.com/?tmwzdmjjwmt

Password: 5kAx58WF

 
4skripsi.com

4skripsi adalah pusat download skripsi, tesis, disertasi, jurnal, makalah, KTI dan tugas akhir gratis. Medotologi penelitian, teknik analisis data dan spss.
Seluruh skripsi yang ada dapat didownload sebagai referensi dengan menyertakan data penulisnya.

Gratis kiriman skripsi terbaru dari email:
Skripsi